Oktober 09, 2026

Eks Pekerja Scam Kamboja Bobol Rp850 Juta via Love Scam di Sulut

Kenalan di Facebook, hubungan makin serius, diajak video call, bahkan sudah merencanakan beli rumah bersama — lalu tabungan Rp850.180.000 raib dalam 15 kali transfer. Itulah yang dialami perempuan berinisial JSSZ, korban jaringan love scam yang dibongkar Subdit V Siber Ditreskrimsus Polda Sulut pada 6 Oktober 2026.

Yang bikin kasus ini merinding: keempat tersangkanya bukan amatiran. Mereka pernah bekerja di perusahaan scam di Poipet, Kamboja — dan "membawa pulang" ilmunya untuk beroperasi di Indonesia.

"Pulang Kampung" dengan Modal Ilmu Scam

Dalam konferensi pers, Dirreskrimsus Polda Sulut Kombes Pol Winardi Prabowo mengungkapkan empat tersangka yang diamankan: DW alias Davidson alias Eboi (aktor utama), BS alias Brivei alias Ontong (pengendali operasional), RL alias Ridei (penarik dana), dan MP alias Moy (manipulator grup).

"Para pelaku ini merupakan sindikat profesional yang bekerja dan dilatih di Kamboja untuk memanipulasi emosi, rasa empati dan harapan baik para korban," jelas Winardi.

Jaringan ini beroperasi di Sulut sejak Juli 2026 dan dalam tiga bulan diduga meraup hingga Rp1 miliar. Pembagian tugasnya rapi: ada pencari sasaran, pembangun kepercayaan, manipulator, hingga penarik dana.

Polisi menyita uang tunai Rp133.781.000, dua Honda Brio, lima sepeda motor, delapan smartphone, dan perangkat komputer. Dana ditarik tunai lewat agen BRILink, lalu dipakai membeli kendaraan dan elektronik — sebagian untuk pesta.

Keempatnya dijerat Pasal 28 ayat (1) jo Pasal 45 ayat (2) UU ITE (UU Nomor 1 Tahun 2024).

Anatomi Serangan: Dari "Marvel Supit" ke Grup 007VIP

Kasus JSSZ adalah contoh textbook cara kerja sindikat profesional. Semuanya bermula dari permintaan pertemanan Facebook dari akun palsu "Marvel Supit" yang dikendalikan Davidson.

Setelah diterima, komunikasi pindah dari Messenger ke WhatsApp. Davidson membangun hubungan asmara: mengaku dari Tondano dan menetap di Batam, bahkan berjanji datang ke Tomohon pada Desember untuk mencari rumah bersama.

Untuk memperkuat penyamaran, ia melakukan panggilan video — tapi yang tampil rekaman video orang lain via kamera belakang ponsel, dengan suaranya sendiri.

Setelah kepercayaan terbangun, Davidson menawarkan "bisnis sampingan": tugas menonton drama pendek lewat aplikasi. Korban diarahkan ke admin fiktif PT BTC — yang sebenarnya dikendalikan Brivei lewat tiga identitas WhatsApp berbeda.

Tahap awal, korban diminta menyetor Rp35.000 dan Rp370.000. Uang itu dikembalikan beserta keuntungan — pancingan klasik. Pada 10 September 2026, umpan dinaikkan drastis: korban diarahkan mengambil paket tugas dengan deposit Rp95.780.000, lalu dimasukkan ke grup WhatsApp "007VIP MEMBER 95780K".

Di grup itulah Moy beraksi: akun-akun yang menyamar sebagai sesama investor rutin mengirim bukti transfer palsu untuk membangun kesan bisnisnya menguntungkan. Transfer demi transfer mengalir — puluhan hingga ratusan juta rupiah — masing-masing diklaim sebagai "penyelesaian paket tugas", hingga korban diminta membayar biaya pencairan anggota VIP.

Namun dana tak kunjung kembali. Pada 15 September 2026, akun-akun palsu di grup itu tiba-tiba menghilang. Total 15 transaksi — Rp850.180.000 — masuk ke tiga rekening penampung.

Kasus Kedua: Modus "Sobis" Janji Lamaran di Sidrap

Di hari yang sama, Polres Sidrap juga membongkar penipuan bermodus asmara — dengan varian berbeda yang dijuluki modus "sobis". Dua tersangka diamankan: AR (32) sebagai otak utama dan RN (39) sebagai kurir.

Polanya: pelaku berkenalan lewat media sosial dengan foto profil yang menyerupai anggota kepolisian dan pelaut, membangun hubungan, lalu menjanjikan akan datang melamar dan menikahi korban — lengkap dengan janji mahar berupa perhiasan emas.

Setelah korban luluh, skenarionya dibalik: korban diminta menyerahkan perhiasan emas miliknya dengan janji diganti yang lebih baik. Kurir RN mengambilnya, menjual ke pasar, dan hasilnya dikirim ke AR.

Sedikitnya 11 laporan polisi ditemukan dengan pola serupa: kerugian tiap korban Rp16–70 juta, total hampir Rp450 juta. AR ditangkap di Balikpapan, Kalimantan Timur, sementara berkas perkara kurir sudah dinyatakan lengkap (P21). Keduanya terancam 6 tahun penjara dan denda hingga Rp1 miliar.

7 Tanda Kamu Sedang Dijadikan Target Love Scam

Dua kasus di atas beda modus, tapi benang merahnya sama: emosi dijadikan pintu masuk, uang adalah tujuannya. Kenali tanda-tandanya:

  1. Terlalu cepat, terlalu sempurna. Baru kenal hitungan hari tapi sudah bicara masa depan dan pernikahan — ini teknik love bombing.
  2. Selalu ada alasan tidak bisa ketemu langsung. Tinggal di luar kota/luar negeri, dinas, sibuk — tapi sangat aktif chatting setiap hari.
  3. Video call yang janggal. Menolak video call, atau gambarnya tidak sinkron dengan suara dan tak bisa diminta gerakan spontan — kasus Sulut membuktikan pelaku bisa memakai rekaman video orang lain.
  4. Cerita hidupnya tidak bisa diverifikasi. Nama, pekerjaan, alamat — semuanya samar dan berubah-ubah saat ditanya detail.
  5. Tiba-tiba ada "peluang" yang melibatkan uang. Investasi, bisnis sampingan, tugas berhadiah, atau permintaan mahar. Hubungan asmara yang sehat tidak butuh transfer dana.
  6. Ada "bukti sosial" yang meyakinkan. Grup berisi testimoni dan bukti transfer yang mengaku sudah berhasil — semuanya bisa dipalsukan, seperti grup 007VIP di kasus Sulut.
  7. Kamu dilarang cerita ke orang lain. "Ini rahasia kita berdua ya" adalah cara pelaku memastikan tidak ada orang waras yang memperingatkanmu.

Cara Melindungi Diri (dan Orang Tersayang)

Polda Sulut dan Polres Sidrap sama-sama mengingatkan: jangan mudah percaya pada asmara yang dibangun lewat media sosial, apalagi jika berujung tawaran investasi atau permintaan transfer. Langkah praktisnya:

  • Aturan emas: jangan pernah mentransfer uang atau menyerahkan barang berharga kepada seseorang yang belum pernah kamu temui langsung — sesayang apa pun perasaanmu.
  • Verifikasi identitasnya. Lakukan pencarian gambar terbalik (reverse image search) pada foto profilnya. Minta video call real-time dengan gerakan spontan, misalnya mengangkat tiga jari.
  • Waspadai "keuntungan kecil di awal". Uang yang dikembalikan beserta untung di tahap awal adalah pancingan standar — persis seperti deposit Rp35.000 dan Rp370.000 di kasus Sulut.
  • Ceritakan ke orang terdekat. Scammer paling takut korbannya bercerita ke keluarga atau teman — dari sudut pandang orang luar, polanya langsung terlihat.
  • Cek legalitas setiap tawaran investasi ke OJK sebelum menyetor satu rupiah pun.
  • Kalau sudah terlanjur: jangan malu melapor. Simpan semua bukti chat dan transfer, lalu lapor ke polisi dan bank secepatnya. Seperti pesan Polda Sulut: jangan menyembunyikannya karena takut dihakimi.

Love scam bukan kejahatan orang bodoh — korbannya orang normal yang dimanipulasi sindikat profesional yang memang dilatih untuk itu. Kalau ada cinta yang datang tiba-tiba dan ujung-ujungnya minta transfer, berhentilah sejenak dan tanyakan ke orang yang kamu percaya.

Tim Redaksi TnError

Media teknologi berbahasa Indonesia — meliput keamanan siber, tutorial praktis, dan kabar teknologi terkini dengan verifikasi berlapis sebelum terbit.