Oktober 14, 2026

HackNusa 2026: Tim NexusOne+ Juara dengan Qerity, Platform Lawan Pinjol Ilegal

Senin pagi yang manis untuk dunia keamanan siber Indonesia. Kaspersky bersama Telkom University (Tel-U) resmi mengumumkan pemenang HackNusa 2026 pada Senin, 12 Oktober 2026 — dan juaranya datang dari Semarang. Tim NexusOne+, berisi tiga mahasiswa Informatika FSM Undip, menyabet gelar juara lewat proyek bernama Qerity: sebuah platform yang dirancang khusus untuk melawan praktik pinjaman online ilegal.

Tiga nama di balik kemenangan ini: Muhammad Aris Maulana, Nazla Azzahra Hermana, dan Ladya Kalascha. Masih berstatus mahasiswa, tapi karya mereka sudah berani menyentuh masalah yang bikin jutaan orang Indonesia pusing tujuh keliling: pinjol ilegal.

Kalau kamu belum familiar, HackNusa 2026 adalah kompetisi hackathon keamanan siber berdurasi 12 jam. Sebanyak 30 tim terpilih bertarung tatap muka pada 12 Oktober 2026. Bukan lomba santai, ini adu otak maraton. Temanya tahun ini: "Securing Tomorrow: Innovating Trust, Delivering Impact".

12 Jam, 30 Tim, Tiga Kategori Sengit

Peserta HackNusa 2026 tidak diberi soal yang enteng. Mereka harus membangun solusi di tiga kategori: Pembayaran Digital & Fintech yang Aman, AI vs AI: Cyber Defense, dan Human-Centric Security alias keamanan yang berpusat pada manusia.

Penilaiannya juga berlapis. Juri melihat kreativitas ide, kelayakan teknis, aspek keamanan, skalabilitas, sampai potensi implementasi dan dampak nyata di lapangan. Jadi bukan sekadar siapa yang paling jago ngoding, tapi siapa yang idenya benar-benar bisa dipakai orang banyak. Standar yang sehat, menurut saya.

Dan di tengah persaingan seketat itu, NexusOne+ keluar sebagai yang terbaik. Hadiahnya? Rp13 juta plus akses kursus Kaspersky xTraining senilai hingga US$2.500. Lumayan banget buat bekal karier.

Terus, Qerity Itu Apa Sih?

Qerity adalah platform verifikasi berbasis perangkat (on-device) yang dipadukan dengan kesadaran komunitas, dengan satu misi jelas: melawan pinjol ilegal.

Coba kita bedah sedikit. "On-device" artinya proses verifikasinya berjalan di perangkat pengguna sendiri, bukan dilempar ke server entah di mana. Analoginya seperti ini: kamu lebih tenang menyimpan kunci rumah di saku sendiri daripada menitipkannya ke orang yang baru kamu kenal kemarin sore. Data tetap di tangan pemiliknya.

Lalu bagian "kesadaran komunitas" melengkapi sisi teknisnya. Karena secanggih apa pun teknologi, kalau penggunanya tidak paham cara kerja jebakan pinjol ilegal, ya tetap bisa kena. Qerity menggabungkan keduanya: alat verifikasi plus edukasi kolektif. Pendekatan yang, jujur saja, jarang terlihat di solusi sejenis.

Yang menarik, kemenangan Qerity ini sekaligus jadi bukti hidup dari kategori ketiga lomba: human-centric security. Keamanan siber ternyata bukan melulu soal firewall, enkripsi, atau kode yang njelimet. Ujung-ujungnya, manusia. Serangan paling mematikan sering kali bukan yang menembus server, melainkan yang menipu orang lewat pesan WhatsApp.

Kenapa Kemenangan Ini Penting Buat Kamu

Oke, mari jujur. Kamu mungkin bertanya-tanya: kenapa saya harus peduli dengan lomba hackathon?

Jawabannya sederhana: karena pinjol ilegal adalah masalah nyata yang mengintai orang-orang di sekitar kita. Mungkin bukan kamu, tapi bisa jadi tetangga, saudara, atau teman satu grup WhatsApp keluarga. Modusnya itu-itu saja: iklan menggiurkan di SMS atau media sosial, proses pencairan kilat tanpa verifikasi berbelit, lalu bunga dan denda yang mencekik begitu dana cair.

Yang paling kejam, sebagian pinjol ilegal mengakses kontak dan galeri ponsel korban, lalu meneror orang-orang di daftar kontak itu saat korban telat bayar. Malu, panik, tertekan — lingkaran setan yang sudah memakan banyak korban di Indonesia.

Jadi ketika tiga mahasiswa memutuskan menghabiskan 12 jam membangun senjata melawan praktik seperti ini — dan menang — itu bukan sekadar prestasi kampus. Itu kabar baik untuk kita semua. Artinya ada generasi baru yang melihat masalah di masyarakat, lalu memilih menyelesaikannya dengan keahlian mereka, bukan cuma mengeluh di media sosial.

Kenali Ciri-Ciri Pinjol Ilegal (Biar Kamu Nggak Kena)

Sambil menunggu Qerity berkembang, bekali dirimu dengan pengetahuan dasar. Ini ciri-ciri pinjol ilegal yang wajib kamu hafal di luar kepala:

  • Tidak terdaftar di OJK. Ini yang paling gampang dicek. Pinjol legal wajib mengantongi izin Otoritas Jasa Keuangan. Kalau tidak ada di daftar resmi, angkat kaki.
  • Menawarkan lewat spam. Pinjol resmi tidak akan menghubungimu lewat SMS atau WhatsApp yang tidak kamu minta. Kalau ada tawaran pinjaman nyelonong begitu saja, itu lampu merah.
  • Bunga dan biaya tidak transparan. Iklannya manis ("bunga ringan!"), tapi rincian denda dan biaya tersembunyi. Pinjol legal wajib menjelaskan total biaya di awal.
  • Minta akses berlebihan ke ponsel. Akses kontak, galeri, sampai lokasi? Itu bahan untuk meneror, bukan untuk verifikasi.

Kalau kamu atau orang terdekatmu menemukan dugaan pinjol ilegal, jangan diam. Cek status legalitasnya di situs resmi OJK, dan laporkan ke Satgas PASTI (Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal). Kamu juga bisa menghubungi kontak resmi OJK di 157. Melapor itu gratis, dan justru membantu memberantas praktik yang sama.

Ingat satu prinsip: tidak ada pinjaman resmi yang prosesnya serba kilat tanpa identitas jelas. Kalau terlalu mudah, biasanya ada udang di balik bakwan.

Suara dari Kaspersky: Regenerasi Itu Kunci

Trishia Octaviano, Senior Manager Cyber Security Education Asia Pasifik Kaspersky, menyampaikan bahwa HackNusa menjadi wadah bagi talenta muda untuk memecahkan persoalan keamanan siber yang nyata, dengan pendampingan langsung dari para mentor dan pakar industri. Menurutnya, ajang seperti ini penting untuk menyiapkan generasi profesional keamanan siber berikutnya.

Dan saya setuju penuh. Indonesia kekurangan talenta keamanan siber — itu fakta yang sudah lama dibicarakan. Kompetisi seperti HackNusa bukan sekadar panggung unjuk gigi, tapi jalur percepatan: mahasiswa bertemu mentor industri, ide mentah ditempa jadi solusi, dan yang terbaik dapat bekal nyata berupa pelatihan kelas dunia lewat Kaspersky xTraining.

Bayangkan kalau pola ini terus berlanjut setiap tahun. Lima tahun dari sekarang, kita punya barisan profesional keamanan siber yang ditempa sejak bangku kuliah. Musuh-musuhnya? Pinjol ilegal, penipuan digital, dan segala bentuk kejahatan siber yang selama ini merajalela karena korbannya tidak punya pelindung.

Mahasiswa Indonesia Bisa. Titik.

Ada satu hal yang ingin saya garis bawahi dari kabar ini. Kita sering — terlalu sering — meremehkan kampus sendiri. Kalau ada prestasi teknologi, yang dibayangkan pasti dari luar negeri. Padahal NexusOne+ membuktikan sebaliknya: tiga mahasiswa dari Semarang mampu memenangkan kompetisi keamanan siber tingkat nasional dengan solusi yang menyentuh masalah lokal.

Qerity belum tentu langsung tersedia untuk kamu unduh besok pagi. Perjalanan dari prototipe hackathon menjadi produk yang dipakai jutaan orang masih panjang: butuh pendanaan, pengujian, dan kemitraan. Tapi fondasinya sudah benar — masalahnya nyata, pendekatannya manusiawi, dan pembuatnya paham medan.

Buat kamu yang masih kuliah, apalagi di jurusan teknologi: ini undangan terbuka. Kompetisi seperti HackNusa membuktikan bahwa ide bagus dari kamar kos bisa naik panggung nasional. Yang kamu butuhkan cuma tiga hal: masalah yang ingin diselesaikan, kemauan belajar, dan keberanian ikut bertanding.

Selamat untuk Muhammad Aris Maulana, Nazla Azzahra Hermana, dan Ladya Kalascha. Kalian tidak cuma membawa pulang Rp13 juta — kalian membawa pulang harapan. Dan buat para pinjol ilegal di luar sana: hati-hati, generasi baru sudah datang, dan mereka tidak main-main.

Tim Redaksi TnError

Media teknologi berbahasa Indonesia — meliput keamanan siber, tutorial praktis, dan kabar teknologi terkini dengan verifikasi berlapis sebelum terbit.