Biasanya, kalau seorang presiden bicara soal "serangan" di depan ribuan prajurit TNI, yang terbayang itu tank, jet tempur, atau kapal perang. Tapi Senin lalu, 5 Oktober 2026, di Lapangan Prima Markas Besar TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Presiden Prabowo Subianto bicara soal serangan yang tidak kelihatan bentuknya — dan menurutnya, serangan itu sudah dimulai.
"Kita bisa diserang dan sudah mulai diserang melalui siber, melalui disinformasi, melalui berita-berita bohong yang selalu ingin Indonesia dipecah belah, yang selalu ingin Indonesia gaduh," kata Prabowo dalam amanat upacara HUT ke-81 TNI.
Perhatikan pilihan katanya: bukan "akan diserang", tapi "sudah mulai diserang". Artinya, di mata presiden, ini bukan lagi skenario masa depan yang bisa ditunda-tunda penanganannya. Ini sedang terjadi. Sekarang.
Perang yang Tidak Selalu Berwujud Fisik
Prabowo menegaskan satu hal yang mungkin terdengar aneh di telinga generasi yang tumbuh dengan film perang: perang modern belum tentu berwujud fisik. Tidak ada dentuman meriam. Tidak ada sirene. Yang ada justru layar ponsel yang menyala di tangan 190 juta lebih pengguna internet Indonesia.
Karena itu ia meminta TNI bertransformasi — menjadi kekuatan yang profesional, responsif, modern, inovatif, dan adaptif — dengan satu tuntutan yang ia ulang tiga kali: "belajar, belajar, belajar, dan berlatih, berlatih, berlatih." Masa damai, katanya, justru waktu terbaik untuk bersiap menghadapi skenario terburuk.
Kalau dipikir-pikir, logikanya masuk akal. Ngapain repot-repot mengerahkan armada kalau sebuah negara bisa digoyang hanya dengan membuat warganya saling curiga satu sama lain? Murah, cepat, dan nyaris tidak meninggalkan jejak.
Medan Tempurnya? Pikiranmu
Nah, di sinilah konsep yang belakangan ramai dibicarakan jadi relevan: cognitive warfare, alias perang kognitif. Istilah ini diangkat Gema Goeyardi, Founder dan CEO Astronacci International, dalam videonya yang berjudul cukup heboh: "BAHAYA NASIONAL!! Kita sedang PERANG COGNITIVE".
Intinya sederhana tapi mengerikan: yang diserang bukan wilayah, bukan infrastruktur fisik. Yang diserang adalah persepsi — cara kita memahami informasi. Ponsel dan media sosial berubah menjadi arena konflik.
"Yang diserang bukan kilang minyaknya. Yang diserang adalah pikiran Anda dan saya melalui perspektif driven dari algoritma sosial media," kata Gema dalam keterangannya, Kamis (8/10/2026).
Cara kerjanya? Sebuah isu yang awalnya nyata dipotong dari konteksnya, dibelokkan sedikit, dikemas ulang supaya lebih dramatis — lalu disebar lewat berbagai kanal. Begitu bumbunya ditambah (bikin marah, bikin takut, bikin putus asa), algoritma media sosial dengan senang hati mengamplifikasinya. Yang viral bukan yang benar, tapi yang paling memancing emosi.
Satu catatan jujur: kewaspadaan Gema soal disinformasi ini sejalan dengan peringatan presiden, tapi itu tidak otomatis membuktikan semua dugaannya soal siapa pelaku dan apa motif di baliknya. Klaim soal aktor dan jaringan tetap butuh pembuktian tersendiri. Kita fokus ke mekanismenya — karena mekanismenya nyata, terlepas dari siapa yang mengoperasikannya.
Kenapa Hoaks Jadi Senjata Favorit
Coba bandingkan biayanya. Satu operasi militer konvensional butuh miliaran dolar. Satu kampanye disinformasi? Cukup jaringan akun palsu, beberapa potongan video yang diedit, dan pemahaman soal apa yang bikin orang Indonesia emosi. Modalnya receh, dampaknya bisa nasional.
Dan targetnya bukan politisi atau pejabat saja. Targetnya kamu. Yang tiap pagi buka grup WhatsApp keluarga dan menemukan "berita" yang belum jelas juntrungannya, lalu tanpa pikir panjang meneruskannya ke grup lain. Kita semua adalah garis depan — mau tidak mau.
7 Jurus Warga Melawan Hoaks
Kabar baiknya: kamu tidak butuh seragam TNI untuk ikut bertahan. Ini jurus-jurusnya:
1. Saring sebelum sharing. Ini mantra utamanya. Jari lebih cepat dari otak adalah akar dari semua masalah. Tahan dulu jempolmu.
2. Tanya: siapa yang pertama mengunggah ini? Cari sumber aslinya. Kalau sebuah "berita" hanya beredar sebagai tangkapan layar tanpa tautan ke sumber primer, curigai.
3. Periksa reputasi sumbernya. Akun yang menyebar — siapa dia? Media yang memuat — kredibel atau langganan sensasi?
4. Lihat konteks utuhnya. Video 30 detik yang bikin darah mendidih sering kali adalah potongan dari video 30 menit yang isinya biasa saja. Cari versi lengkapnya sebelum bereaksi.
5. Bandingkan dengan media tepercaya. Kalau sebuah kabar besar benar-benar terjadi, media-media besar pasti memberitakannya.
6. Waspadai umpan emosi. Sebelum percaya, tanya ke diri sendiri — apakah konten ini sengaja dibuat supaya aku marah atau takut?
7. Laporkan, jangan ikut menyebar. Temukan konten yang jelas-jelas hoaks? Laporkan ke platformnya atau ke kanal aduan konten Komdigi.
Pertahanan Dimulai dari Jempol
Prabowo menutup amanatnya dengan pesan soal kesiapsiagaan di masa damai. Pesan yang sama sebenarnya berlaku untuk kita yang berseragam kaos oblong di depan layar ponsel: masa tenang justru waktu terbaik untuk melatih kebiasaan verifikasi.
Karena pada akhirnya, cognitive warfare hanya menang kalau targetnya pasif. Hoaks butuh dua bahan bakar: pembuat yang licik dan penerus yang malas memeriksa. Pembuatnya mungkin di luar jangkauan kita. Tapi penerusnya — itu kita. Dan itu sepenuhnya bisa kita ubah, mulai dari kebiasaan paling sederhana: saring sebelum sharing.
Komentar
Posting Komentar